Wednesday, December 28, 2011

Tujuh Tahun Yang Lalu

Masih teringat tujuh tahun yang lalu. Tsunami menerjang hebatnya di Indonesia bagian Barat. Hiks... sereeeem... Saat itu pula aku dan temen-temenku, temen SMA on stage. Aku megang gitar, Andhika sama megang gitar, Endri megang bass, Kirun mukul bedug, lha yang nyanyi Gibi. Saat-saat itulah mungkin kejayaan band kami. Kami begitu solid dalam bentuk Atom band. Band kami dibentuk waktu tanggal 23 November 2002, tapi hingga kini tak pernah bubar, meski kami terpencar-pencar. Didirikan oleh beberapa siswa SMAN 09 Malang angkatan 2002 yang hampir semuanya ndak bisa maen alat musik. Aku sendiri yang paling cakep nyoba maen gitar, Rifai temen ples sahabat yang selalu baek sampe sekarang nyoba maen drum, Endri temen sekelas nyoba maen bass, en Najib yang akhirnya dibuang entah kenapa (eh soriiii Njib, just kidding... hehehe...). Pertama kali ngeband... ancuuuurrrr berantakan lagu ngawur aja ndak jadi, apalagi lagu yang bener. Hahahaha.... Masa-masa SMA yang ndak bener...


Emang awalnya band kami ndak karuan, kacau balau, liat personil-personilnya aja ndak pantes ngeband. Hehehehe... Suatu ketika, band kami sudah mulai merangkak, jadi belum berdiri. Saat itulah aku menemukan seorang temen yang sebelumnya ndak kenal bernama Kirun, sama-sama satu SMA tapi beda kelas. Pertemuan itu kami lakukan di mikrolet. Kami namakan pertemuan itu sebagai Pertemuan ABG, karena code mikroletnya ABG (Arjosari Borobudur Gadang), hehehehe. Sedikit omong-omong akhirnya dia mau untuk gabung bersama kami sebagai drummer. Untuk pengalamannya, dia bisa drum ketika bayangin maen drum, maen drum beneran belum pernah. Yah itulah istimewanya kami. Kami bangun band ini dari awal ndak bisa apa-apa sampe bisa apa aja.


Setaun terlewati, dengan komposisi yang seperti itu. Bahkan banyak orang-orang yang keluar masuk band kami. Kira-kira 10 temen pernah ikutan dan akhirnya keluar. Kenapa? Waktu itu, harap dimaklumi untuk bawain lagu band-band terkenal ndak bisa, jadi bisanya bawain lagu sendiri. Hehehe.. Setelah merangkak, akhirnya kami benar-benar bisa berdiri. Saat Gibi dan Andhika mau ikutan ngeband. Saat itulah merupakan awal kami menjadi anak band. Bener-bener band yang bawain lagu secara bener, en berani nunjukkin nyali kami. Waktu perayaan tahun baru, kami berniat on stage untuk ngukur sampe mana lagu-lagu yang kami ciptaken dapat diterima ato ndak. Waktu itu giliran kami maen jam setengah duabelas malem. Pertama, lagu yang kami bawa emang lagu melo yang aku ciptain, yang kedua lagu American Idiot. Eh tetep aja yang nonton terngantuk-ngantuk, malah ada orang mabuk nyuruh kami turun... hahahaha.


Layaknya cinta yang abadi adalah cinta untuk yang pertama dan yang terakhir, begitu juga band kami. Band kami on stage untuk yang pertama dan yang terakhir. Hingga saat itu belum on stage lagi sampe sekarang. Mungkin band kami adalah band yang abadi, hehehe... Seandainya band kami sering on stage, en terkenal mungkin terkontaminasi adanya manajemen, saat itulah manajemen memikirkan untuk yang terbaik, maka salah satu ato beberapa orang dari kami rela dilepas diganti dengan orang yang punya skill dan komitmen yang ketat. Mengingat di antara kami kurang punya komitmen dari awal hingga akhir. Komitmen kami yang sebenarnya bukan music for money, but music for happiness. Jadi kite-kite ngeband cuma untuk menghibur diri bukan untuk tujuan komersiil.


Hingga kini band kami masih bisa menghirup udara segar. Meski kehilangan lead gitar kami, Andhika. Dia keluar taon 2005 an tepat kami lulus SMA. Dari 2005 sampe 2009 kami mencoba untuk berjalan meski pincang. Mencari pengganti Andhika. Hiks.. hikss ndak ada yang bisa sehati layaknya Andhika. Huaaa... Dengan begitu Aku, Endri, Kirun, dan Gibi harus mulai berpikir realistis. Sudah saatnya kami berjalan dengan apa adanya. Kami latian kira-kira 4 bulan sekali dalam kurun 4 tahunan. Tahun 2010 an, ndak ada hujan, petir, guntur, ombak, gempa, tsunami, panas, salju, pohon tumbang, longsor. Ehhh, Gibi keterima kerja diluar Jawa. Yah mau gimana lagi. Sekarang kami bertiga memulai hidup baru sebagai anak band yang ndak pernah latihan. Hehehe... Nyari vokalis suliiiittt banget. Akhirnya aku juga, padahal suara ndak begitu pas-pasan tapi ancuuuur. Yah ndak papa, dengan ketampanan dan kepedeanku itulah mungkin bisa bawa band ini kearah yang agak lurus (jadi bengkok-bengkok sedikit gitu..). Dalam tahun 2011 ini kami latihan hanya sekali. Memang tidak pernah latihan, memang yang nyanyi ancuuur banget tapi musik yang kami mainkan berjalan dengan harmonis. Layaknya jantung yang bergetar saat kami menghembuskan nafas, layaknya menelan ludah dengan tanpa sadar mengedipkan mata. Itulah kami, meski hanya dua orang musik kami berjalan dengan harmonis, meski kami tidak pernah sempurna tapi musik kami berjalan sesuai alurnya. Meski hati kami berbeda tapi musik yang kami mainkan menyatu dalam satu tali ikatan nada yang begitu erat. Kini untuk mengenang tujuh tahun yang lalu, kami berniat untuk berkumpul kembali, reunian lagi. Liat aja dalam ketidaksempurnaan tapi kami bermain dengan harmonis... Itulah keistimewaan kami, Born to Never Die..

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Thanks a lot for your attention...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting